Merbabu – Pengalaman Pertama Mendaki Gunung

Setelah menempuh UN terakhir, hari rabu sore, aku diajak sama bapak mendaki gunung. Gunung yang akan dituju ternyata adalah gunung Merbabu. Aku tuh belum pernah naik gunung sekalipun jadi ini adalah pengalaman mendaki gunung yang pertama kali. Sebelumnya sih pernah juga naik gunung api purba di Nglanggeran, tapi itu siang hari. Kali ini dilakukan pada malam hari.

Jam 4 sore kami berangkat dari rumah menuju tempat pendakian di Selo, Boyolali. Kami naik mobil lengkap ada bapak, ibu, mbak Ninna dan aku. Tambah mbak Hana juga tapi dia gak ikutan naik. Dengan mobil kami pergi menjemput temannya bapak yang bernama mas Aan. Ternyata yang akan berangkat ada juga mas Rifki. Karena jalan waktu itu ramai banget, sampai sana masih magrib jadi waktu itu jam 06.00 sore kami sholat magrib di masjid dekat rumah  mas Aan.

Setelah sholat kami berangkat ke Prambanan untuk menjemput mas Awang. Mas Awang diantar oleh keluarga bude lengkap. Setelah menjemput mas Awang, kami harus mengisi perut dulu, akhirnya kami makan-makan dulu di lesehan pinggir jalan raya di Prambanan Klaten, yaitu warung Sarsi Pesek. Kami juga membeli tambahan bekal buat naik ke atas seperti minuman, mi, sarden dan lain-lain.  Di sini mas Awang dan mba Hana saling berpindah mobil. Sehabis makan malam kami langsung pergi ke Selo lewat Klaten dan Boyolali. Saat di perjalanan aku tertidur. Saat bangun menoleh kaca mobil di samping, ternyata terlihat pemandangan yang indah berupa suasana lampu di Boyolali dan Solo.

Sesampai di Selo kami menuju ke basecamp pendakian tempat juru kunci gunung Merbabu. Kami sempat tersesat juga walaupun mas Aan pernah ke sana, tapi karena malam hari jadi jalannya tidak jelas. Juru kuncinya bernama Pak Parman. Sesampai di rumah sana kami membongkar perlengkapan dan bekal yang akan dibawa.

Rombongan kami sekeluarga, bapak, ibu, mbak Ninna, mas Awang, aku, mas Rifki dan mas Aan.

Rombongan kami sekeluarga, bapak, ibu, mbak Ninna, mas Awang, aku, mas Rifki dan mas Aan.



Kami harus mendaftar untuk naik dengan mengisi daftar nama seluruh orang yang naik pada buku tamu. Setiap orang dikenakan tarif sebesar dua ribu lima ratus. Selain tiket, kami juga dapat stiker. Di sini pendaki yang membawa motor akan dititipkan di dalam rumah, kalau kami yang menggunakan mobil jadi diparkir saja di depan rumah. Waktu itu ternyata banyak juga yang naik ke gunung Merbabu karena sudah banyak motor yang terlihat parkir di dalam.

Hawa di sini juga sudah mulai terasa dingin jadi langsung memasang baju rangkap. Aku mengurusin barang-barang yang masuk di ranselku. Bajunya rangkap-rangkap, juga pakai sarung tangan dan penutup kepala. Celana panjangku juga didobel dengan pakai training tebal di bagian luar. Terus pakai sepatu dan kaos kaki. Oh ya… kaos kakiku juga dobel, pakai kaos kaki biasa dirangkap dengan kaos kaki futsal, hehehe….

Sudah siap naik gunung.

Sudah siap naik gunung.


Ibu dan mbak Ninna pun juga sudah siap.

Ibu dan mbak Ninna pun juga sudah siap.


Bersambung ke bagian berikuntya.

Iklan

One comment on “Merbabu – Pengalaman Pertama Mendaki Gunung

  1. Ping-balik: Membatu di Merbabu (bagian kedua) | Blog Ari Dharmayanti

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s