Berwisata di Pantai Poktunggal-2

Setelah membatalkan kunjungan di Indrayanti, kami segera pindah ke pantai Poktunggal. Saat sampai di poktunggal, kami segera memarkir mobil. Aku melihat pantai poktunggal ini cukup bagus dan bersih. Bahkan mungkin menurutku lebih bagus pantai Poktunggal ini daripada pantai Indrayanti. Di sana pasirnya juga putih dan bersih. Kami juga menyewa paying dan tikar.

Senang sekali kami di sana, langsung saja aku bermain air sama Rafi, Firman, Abror, dan Alwan. Pantainya datar jadi kami boleh bermain masuk ke laut. Tapi harus selalu berhati-hati karena ombaknya juga besar. Aku bermain ombak ini ikut menghanyutkan ke tepi. Tidak sengaja airnya masuk mulut yang teryata asin…. Banget ! Kalau kena mata ternyata juga bikin perih. Bahkan kalau sampai tertelah masuk ke mulut bisa muntah.

Aku senang bermain di sini karena air lautnya sangat jernih. Saat sampai sana hampir jam 10 siang, lama kelamaan ombak semakin besar jadi semakin enak untuk bermain-main ombak di tepian laut itu. Kami lempar-lemparan bola plastik untuk kemudian dikejar kembali di atas air.

Bermain air di pantai Poktunggal

Bermain air di pantai Poktunggal


Baca lebih lanjut

Iklan

Berwisata di Pantai Poktunggal-1

Pada hari Minggu beberapa waktu lalu, aku pergi berlibur ke pantai di daerah Gunungkidul. Kami beramai-ramai ke sana menggunakan tiga buah mobil. Kebetulan ada keluarga tante yang sedang datang dari Bogor. Ditambah dengan keluarga dari budhe, jadi lengkap sekali. Kami juga mengajak Rafi dan Ninda sepupuku.

Dari Yogya, kami berangkat dengan janjian ketemu di jalan. Kami akan ketemu rombongan budhe dan tante di perjalanan. Perjalanan kami menuju Wonosari harus melewati tanjakan Pathuk yang sering juga disebut Bukit Bintang. Kemudian satu jam berikutnya akhirnya kami dapat menyusul rombongan budhe dan tante di lubang Luweng.

Luweng ini adalah di gunung kapur yang memiliki jurang berbentuk lubang yang cukup dalam. Dari tepi jalan bisa terlihat jelas. Di sini kami terus berfoto-foto. Tidak lama beristirahat, kami pun melanjutkan perjalanan untuk menuju pantai Indrayanti. Waktu itu aku kemudian ikut mobilnya budhe.

Berfoto di tepian luweng.

Berfoto di tepian luweng.


Baca lebih lanjut

Pengalaman Mendaki Gunung Api Purba (bagian 3)

Sambungan dari bagian 1 dan bagian 2.

Setelah sampai di pertigaan kemudian Ibu, Piman dan Anti sepertinya sudah menyerah. Yang lain akhirnya tetap berjalan diikuti bapak. Ternyata jalan itu hanya berputar sedikit untuk kemudian sampai di batu besar yang merupakan puncak sebenarnya. Bapak kemudian kembali memanggil ibu yang berhenti di belakang dan meminta kami menunggu jangan naik dulu.

Akhirnya setelah berkumpul semua, barulah kami naik tangga satu per satu. Di situ kalau tidak ada tangganya maka jelas tidak mungkin bisa naik, karena batunya tinggi sekali. Setelah dari tangga, dilanjutkan dengan jalan merayap di batu, sampailah kami di puncak gunung api purba ini. Wah senang sekali…

Di situ kami puas melihat pemandangan alam ke seluruh arah. Bagus sekali…. Jelas kami di situ banyak berfoto-foto. Kami juga beristirahat untuk minum dan makan bekal yang dibawa.

Berfoto satu keluarga di puncak gunung api purba.

Berfoto satu keluarga di puncak gunung api purba.

Di sebelah selatan cuma terpisahkan dengan jurang terdapat puncak gunung lain, yang katanya mbak Ninna disebut puncak lima jari. Hal ini karena kayak ada jari-jari tangan di situ. Ternyata jurang di bawah situ adalah kawah gunung api purba. Kami sendiri tidak tahu, baru tahu setelah dicocokkan di peta lokasi. Padahal sebelumnya sudah mencari kawah tidak ada.
Baca lebih lanjut

Pengalaman Mendaki Gunung Api Purba (bagian 2)

Sambungan dari bagian 1.

Bentuk gunung api purba ini berbeda dengan gunung berapi yang aktif saat ini seperti gunung merapi. Di sini tentu saja sudah tidak meletus karena aktifnya terjadi jutaan tahun yang lalu. Kalau dilihat sekilas, maka ciri khas gunung api purba ini adalah berupa perbukitan dari batu keras yang besar-besar. Di beberapa tempat ada bongkahan batu yang menonjol besar. Bahkan di lokasi persawahan penduduk juga banyak terlihat ada bongkahan batunya juga. Kalau dilihat ke atas, maka terlihat bukit yang sebenarnya merupakan bongkahan batu juga. Semua terlihat tinggi dan berbagai macam bentuknya. Dan itu nanti merupakan tempat yang mau kami tuju… Wah bisa sampai gak ya ???

Ini lho peserta yang muda-muda... Kuat sampai puncak pokoknya...

Ini lho peserta yang muda-muda... Kuat sampai puncak pokoknya...

Sebelum naik di situ ada petunjuk lokasi arah naik ke puncak gunung. Disebutkan kami harus melewati tiga pos pemberhentian di perjalanan menuju puncak ini. Tidak lupa di beberapa tempat kami berfoto-foto untuk kenang-kenangan.

Dari lokasi joglo ini kami menyusuri jalan setapak yang tertata rapi. Kami pertama kali melewati bongkahan batu yang berongga kayak goa. Di situ kami mampir sejenak. Ternyata lokasi ini namanya adalah Song Gudel ( Kandang Anak Kebo ). Masyarakat menamakan hal ini karena di lokasi tersebut terdapat batuan besar yang “disonggo” batuan yang lebih kecil dan membentuk seperti goa, yang menyerupai kandang.
Baca lebih lanjut

Pengalaman Mendaki Gunung Api Purba (bagian 1)

Sewaktu bapak pulang kemarin, di sela-sela menunggu eyang yang sakit, sempat juga kami diajak berjalan-jalan sebentar. Menurut bapak ini wisata yang murah meriah, namun ternyata juga sangat menarik karena menjadi pengalaman baru dalam hal mendaki gunung. Sebenarnya sih bukan mendaki gunung sebenarnya tetapi tepatnya bukit. Tetapi di situ lebih dikenal sebagai gunung yakni gunung api purba. Lumayan lho bisa bersenang-senang sebentar dan latihan sebagai pecinta alam.

Kami pergi ke sana beramai-ramai naik mobil. Dari rumah mampir sebentar ke rumah mbak Tiwi, temannya mbak Ninna yang mau diajak. Terus habis itu ke rumah bude sebentar di kalasan menjemput sepupu kami. Semuanya ikut. Jadi pesertanya komplit plit, mulai dari bapak, ibu, mbak Ninna, aku, mas Awang, Anti, Pimen dan mbak Tiwik. Jadi yang paling kecil itu aku dan Pimen. Lumayan tidak kebagian disuruh bawa tas.

Dari awal semua sudah dibilangin bapak, selama di jalan, tidak boleh rewel, tidak boleh ada yang bilang capek terus minta gendong. Hihihi…. Ya sudah, karena belum tahu dan belum pernah ya pokoknya ikut saja. Kami membawa bekal minuman air dalam botol serta roti, bapak malah bawa buah salak juga. Beberapa tas yang dibawa berupa tas ransel jadi mudah dibawa saat berjalan.

Ini lho gunung api purba yang mau didaki...

Ini lho gunung api purba yang mau didaki...


Kami segera berangkat karena hari sudah mulai siang. Takut nanti kepanasan di atas sana. Kemarin padahal niatnya mau berangkat pagi-pagi sekali, tapi ini malah sudah jam 9 lebih. Tapi tidak apa karena nanti naiknya kurang dari 2,5 jam menurut yang sudah pernah. Kata bapak sih nanti lihat saja, kalau tidak kuat ya berhenti sesampainya saja, jadi tidak usah tergesa-gesa berjalan naiknya.
Baca lebih lanjut