Bermain dengan Belalang

Belum lama ini di halaman belakang rumah ada seekor belalang. Belalang ini hinggap di daun yang tumbuh di sana. Ukurannya cukup besar dan berwarna hijau.

Belalang itu aku tangkap. Waktu pertama kali malah menggigit tanganku. Habis itu aku pegang dari bagian belakang. Belalang ini mau saja merayap pelan-pelan.

Belalang merayap di baju.

Belalang merayap di baju.


Baca lebih lanjut

Iklan

Buah Matoa yang Unik

Waktu pulang sekolah kemarin, di meja makan aku temui sekeranjang buah yang unik. Soalnya ya memang baru pertama kali aku lihat buah itu. Buah itu dibawa oleh bapak dari Kebun Percobaan milik UGM di daerah Kalasan. Katanya di sana sedang panen buah ini cukup banyak.

Buah matoa

Buah matoa


Buah itu ternyata adalah buah matoa. Buah ini kata mbak Ninna adalah buah asli Indonesia. Buah ini asalnya dari pulau Papua. Jadi pohon itu asalnya dari sana kemudian banyak ditanam di tempat lain. Termasuk juga ditanam di Yogya ini.

Buah matoa berbentuk bulat lonjong. Di keranjang itu warnanya beraneka macam, ada yang hijau, kuning, oranye dan merah. Sebenarnya yang sudah matang betul itu kalau yang merah. Tapi semua buah itu memang sudah bisa dimakan walaupun masih hijau.

Rasanya juga cukup enak, manis dan berair gitu. Mirip buah leci tapi tidak masam. Mirip rambutan tapi dagingnya tipis. Biji buahnya besar banget kayak durian.

Cara mengupasnya juga mudah, tidak perlu pakai pisau. Cukup ditekan kuat-kuat maka kulit buah yang keras dan tipis itu akan pecah. Daging buahnya dapat langsung keluar dan dimakan terlepas dari bijinya.

Baca lebih lanjut

Pohon Apokatku Akhirnya Ditebang

Di depan rumah terdapat dua pohon besar yaitu pohon mangga dan pohon apokat. Sebenarnya dengan adanya dua pohon itu rumah jadi teduh dan tidak terasa panas. Namun juga bikin repot. Kakakku jadi ikutan repot, dia yang kebagian tugas menyapu halaman dan jalan depan rumah dari daun-daun kedua pohon itu yang rontok. Tugas menyapu ini harus dilakukan pada pagi dan sore hari. Kalau tidak halaman akan terlihat kotor sekali.

Kalau sedang ada angin kencang atau pas turun hujan, maka daun-daun yang rontok juga tambah banyak. Khususnya pohon apokat yang daunnya kecil-kecil. Kalau sudah jatuh dan terbawa angin, maka sampah ini juga ikut sampai terbawa ke tempat tetangga. Jadi ikut merepotkan orang lain.

Meskipun pohon apokat ini buahnya cukup besar, tetapi kami belum pernah panen banyak. Pernah beberapa kali berbuah tapi belum sampai berbuah sangat banyak. Pohon ini asalnya dari bibit biji yang berasal dari rumah eyang. Di sana pohon apokatnya kalau berbuah sangat banyak dan buahnya juga besar-besar.

Lama-lama pohon apokat di depan rumah ini tinggi sekali. Memang sih sering dipangkas. Tetapi karena sering diprotes tetangga, akhirnya pohon ini terpaksa harus ditebang. Sebenarnya sayang juga sih. Soalnya kami serumah suka sekali makan apokat. Coba kalau pohonnya berbuah, kan tidak perlu beli apokat. Harga buah apokat per kilonya kan mahal.

Pohon sudah dipangkas

Pohon sudah dipangkas


Baca lebih lanjut

Cara Unik Mengupas Mangga

Kalau sudah musim buah mangga, di rumah hampir selalu ada mangga. Entah itu buah mangga hasil memetik sendiri pohon di depan atau mangga hasil beli. Di rumah sering beli buah mangga karena kadang harganya murah. Kadang juga dapat kiriman buah mangga dari saudara.

Makan mangga itu berbeda dengan makan buah jambu atau jeruk. Makan buah jambu tinggal cuci langsung bisa dimakan. Makan jeruk bisa dilakukan setelah buah dikupas dulu. Mengupas buah jeruk cukup dengan tangan. Tapi kalau buah mangga memang bisa dimakan setelah dikupas dulu. Pengupasan buah mangga ini harus dengan pisau tidak bisa dengan hanya tangan. Setlah dikupas, baru daging buah diiris-iris dan siap dimakan.

Mengupas buah mangga memang paling enak kalau dengan pisau yang tajam. Waktu kecil aku tentunya tidak boleh mengupas mangga dengan pisau sendiri. Jadinya ibu yang biasanya mengupas dan aku tinggal makan. Kadang-kadang kalau sedang kepingin tapi tidak ada ibu, harus menunggu orang lain juga yang mengupas nanti tinggal minta. Kalau sudah kepengin makan sendiri takut teriris pisau.

Setelah beberapa waktu, aku diajari cara makan buah mangga dengan lebih praktis. Memang tetap harus menggunakan pisau tapi tidak harus mengupas kulit mangga sampai bersih. Caranya berbeda dan sedikit unik karena memang mangga tidak dikupas.

Jadi buah mangga diiris tebal sesuai arah buahnya, dari atas ke bawah. Kadang harus dicari juga yang bagian pipih supaya dagingnya terpotong tetap tebal. Cara memotongnya juga jangan terlalu tebal nanti akan ikut terkena bagian bijinya. Jadi dengan cara ini bisa diperoleh dua potongan buah mangga yang masih ada kulitnya.

Setelah itu bagian daging mangga diiris-iris dengan ujung pisau dengan ukuran terserah kita. Pengirisan jangan sampai menembus kulit buah mangganya yang penting bisa mengiris. Setelah diiris membentuk kotak maka dari kedua tepi ini dipegang dan seperti dibalik. Akibatnya bagian daging buah tadi terbelah kotak-kotak dan ini bisa langsung dimakan dengan mulut.

Mengupas buah mangga dengan mudah

Mengupas buah mangga dengan mudah


Baca lebih lanjut

Musim Buah Mangga yang Mengasyikan

Bulan Oktober ini di Yogya merupakan musim buah mangga. Di mana-mana dijual buah mangga. Kalau waktu-waktu sebelumnya buah mangga hanya dijual di kios buah atau di supermarket saja, sekarang banyak sekali dijual di mana-mana.

Di beberapa tempat buah mangga dijual, termasuk di pinggir-pinggir jalan. Bahkan di jalan kecil tempat masuk ke rumah kami pun ada yang jualan. Mereka berjualan dengan menaruh buah-buah mangga itu di atas meja secara bertumpuk rapi. Jika ada pembeli maka dapat langsung memilih jenis dan buah yang diinginkan. Kemudian buah itu ditimbang dan dimasukkan ke tas plastik.

Ada juga penjual buah mangga yang dibawa berkeliling. Di rumah kami, biasanya penjual buah mangga itu menggunakan sepeda atau sepeda motor. Buah ini diletakkan di keranjang di samping belakang. Untuk keperluan menimbang, penjual juga harus selalu membawa timbangan.

Soal harga buah mangga ini relatif murah. Ada penjual yang memasang harga di tiap jenis dan tumpukan buah mangga tersebut. Kalau buah mangga yang besar biasanya lebih mahal. Harganya juga tergantung dari jenisnya.

Buah mangga yang dijual juga macam-macam sekali. Ada mangga manalagi, mangga harumanis, mangga cengir, mangga golek, dan lain-lain.

Kalau mau enak ya pilih buah yang sudah matang. Ada juga penjual yang mengatakan mangganya itu masak dari pohon, jadi bukan dari hasil diperam. Buah mangga yang ini memang biasanya enak, tapi harganya jadi lebih mahal sedikit.

Tumpukan buah mangga yang dijual bakul eceran.

Tumpukan buah mangga yang dijual bakul eceran.


Baca lebih lanjut

Puasa Paling Asyik Waktu Menyiram Kebun

Selama bulan ramadhan, kita semua diwajibkan untuk menjalankan ibadah puasa. Aku juga sudah dua tahun ini dapat puasa penuh, jadi puasa tahun ini juga harus penuh lagi. Puasa itu berarti harus menahan makan dan minum sejak sahur sampai berbuka di saat magrib, serta juga tidak melakukan hal-hal yang dilarang lainnya.

Kalau siang hari, rasanya kadang berat sekali untuk tetap melaksanakan puasa itu. Tapi memang itu harus dijalankan sampai berbuka nanti. Apalagi kalau setelah pulang sekolah. Kalau di sekolah sih kadang tidak terasa karena banyak teman-teman yang berpuasa juga. Di rumah sewaktu berpuasa ini paling hanya tiduran menonton televisi atau membuka komputer. Sama Ibu sih sebenarnya paling sering disuruh tidur siang saja.

Kalau sore hari, kadang ibu sedang memasak di dapur. Bau masakan kadang sangat enak sekali tercium sampai depan. Aku kadang juga jadi ikutan pergi ke dapur, sekedar membantu Ibu atau hanya melihat-lihat saja. Yang penting bisa melihat masakan yang sedang dibuat dan mencium bau masakannya.

Ada satu kegiatan yang paling mengasyikan lainnya saat berpuasa. Puasa kan dilakukan siang hari dan biasanya cukup panas. Ternyata ada cara untuk membuat badan jadi sejuk. Selain mandi, ternyata ada acara yang juga bisa aku lakukan yang bermanfaat. Acara ini yaitu menyiram tanaman di kebun.

Menyirami pot biar tetap hijau.

Menyirami pot biar tetap hijau.


Baca lebih lanjut

Bermain Flying Fox di Agrowisata Tuntang

Satu permainan yang sangat menarik adalah bermain flying fox. Kata mbak Ninna kata ini artinya adalah Serigala Terbang. Memang sih kita saat bermain ini seperti terbang. Soalnya kita akan meluncur di atas tanah selama beberapa saat.

Flying fox adalah permainan meluncurkan tubuh dengan jalan menggantung pada seutas kawat atau tali yang kuat. Tubuh kita diikat dengan menggunakan tali pengaman yang dikalungkan melingkar paha dan pundak kita. Setelah itu ada kaitan yang digunakan pada kawat panjang sebagai jalur luncuran ini.  Setelah siap, maka ada orang yang membantu meluncurkan kita. Di ujung kawat lain nanti ada petugas lain yang memperlambat luncuran sehingga kita dapat berhenti dengan aman. Wah senang lho bermain ini, selain karena deg-degan takut namun juga ingin selalu mencobanya lagi.

Sebenarnya kalau di sekolahku di SDIT juga ada permainan flying fox ini. Kami di kelas juga sudah pernah mencoba menggunakan flying fox tersebut. Selain itu waktu acara keluarga, ibu dan mbak Ninna juga pernah mencoba flying fox di sekolahku itu. Tapi kalau melihat flying fox di tempat lain, selalu ingin mencoba juga. Jadi waktu ada acara keluarga kantor bapak di Agrowisata Tuntang, Salatiga.

Ini mbak Ninna duluan yang naik.

Ini mbak Ninna duluan yang naik.

Baca lebih lanjut

Memetik Jambu Jamaika di Blater

Ini masih tulisan soal buah-buahan. Kalau tulisan sebelumnya tentang belimbing (baca ini) dan jambu air (baca ini), maka kali ini tentang jambu juga tapi jambu jamaika. Jambu jamaika adalah jambu dersono tetapi yang bisa berukuran cukup besar.

Pohon yang ingin aku ceritakan adalah pohon milik pakde-ku yang tinggal di Blater Purbalingga. Pohon ini tumbuh di halaman belakang dekat sumur dan tumbuh dengan ketinggian sekitar 6 meter. Pohon jambu jamaika ini dulu katanya ditanam dari bibit yang dibeli dari toko bibit tanaman. Setelah ditanam, pohon ini tumbuh dengan cepat dengan daun yang lebat. Sewaktu berumur dua tahun, pohon ini mulai berbuah. Tahun berikutnya mulai dapat berbuah dengan lebat.

Buah jambu jamaika yang besar-besar, uenak lho...

Buah jambu jamaika yang besar-besar, uenak lho...

Buah jambu jamaika berwarna merah tua. Saat muda berwarna pink tetapi kemudian membesar dan berubah warna menjadi kemerahan. Supaya tidak rontok, buah jambu yang membesar ini harus dibungkus kertas koran atau plastik. Dengan pembungkusan ini katanya juga supaya buah tidak dimakan kelelawar pemakan buah. Baca lebih lanjut

Pohon Jambuku Berbuah Lebat

Bulan puasa kemarin, kami menengok rumah yang di Kalasan. Ternyata saat itu buah jambu yang berada di depan rumah sedang berbuah lebat. Ini adalah pohon jambu air dengan warna kehijauan, tetapi kalau sudah agak matang berubah sedikit merah kecoklatan. Rasanya manis sekali lho kalau yang sudah matang.

Pohon jambu air ini ditanam beberapa tahun yang lalu dan sekarang sudah cukup besar memang. Pohon ini tidak boleh tumbuh tinggi karena tumbuh di bawah tiang listrik. Jadi setiap beberapa waktu harus dipangkas bagian ujungnya.

Buah jambu lebat di pohon rumahku.

Baca lebih lanjut

Jembatan Kayu

Jembatan merupakan bagian jalan yang melintasi sungai sehingga orang atau kendaraan dapat menyeberangi dengan mudah. Jembatan biasa dibuat dari besi atau beton yang cukup kuat.

Sewaktu berkunjung di Dieng, saya pernah menjumpai batang pohon yang tumbang. Batang pohon ini melengkung dan menyerupai jembatan yang menghubungkan tanah yang terpisah oleh selokan kecil. Saya melihat ini mencoba uji nyali untuk melewati jembatan dari pohon ini.

Naik jembatan kayu di Dieng.

Naik jembatan kayu di Dieng.

Tadinya sempat terasa takut juga, tapi setelah melihat mbak Ninna juga sudah mencoba, maka akupun ikut mencoba. Lagipula karena tidak begitu tinggi akhirnya aku dan salah seorang teman ikut mencoba juga. Di sini tentu saja, harus lewat satu per satu tidak boleh saling mendahului.

Aduh rasanya jadi ingin main ke Dieng lagi…